Friday, May 18, 2012

PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA PEMBAHARUAN

Ini rangkuman tentang perkembangan Islam pada masa pembaharuan. Udah dirangkum tetep aja banyak, selamat membaca deeeh :)
PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA PEMBAHARUAN
1.       Kemunduran Umat Islam
Dinasti Abbasiyah di Baghdad runtuh karena serangan tentara Mongol sehingga kekuatan politik Islam mengalami kemunduran dan wilayah kekuasaannya terpecah menjadi kerajaan kecil yang saling memerangi.
Keadaan politik umat Islam mulai muncul kemajuan setelah muncul Kerajaan Turki Usmani di Turki, Kerajaan Mughal di India dan Kerajaan Safawi di Persia (Iran).
Puncak kemajuan Kerajaan Usmani terjadi pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Al-Qanuni, Kerajaan Mughal  pada masa pemerintahan Sultan Akbar, Kerajaan Safawi pada masa pemerintahan Abbas I. Setelah masa raja besar itu, kerajaan-kerajaan tersebut mengalami kemunduran di abad ke-18 M dan Eropa Barat mengalami kemajuan.
Kelemahan kerajaan-kerajaan Islam tersebut menyebabkan Eropa dapat menjajah negeri-negeri Islam dengan mudah.
Penyebab Kemunduran Umat Islam:
·         Perubahan sistem pemerintahan Islam dari sistem kekhalifahan menjadi kerajaan
·         Pertentangan mazhab-mazhab dalam Islam sehingga menyebabkan perpecahan karena tidak sependapat
·         Masuknya adat istiadat dan ajaran-ajaran yang tidak ada dalam Islam ke dalam keyakinan Islam,
      sehingga membuat umat Islam mempercayai suatu hal yang beberapa tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sesungguhnya
·         Keyakinan umat Islam bahwa pintu ijtihad telah tertutup
2.       Penjajahan Barat Terhadap Islam
Perekonomian bangsa Eropa mulai maju karena mereka menemukan daerah-daerah baru terbuka baginya sehingga dapat memperoleh kekayaan dari daerah baru yang mereka temukan. Selain itu juga adanya penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Kemajuan Eropa melampaui kemajuan Islam yang mengalami kemunduran.
Bangsa Eropa pada awalnya memasuki India dan pada saat itu Kerajaan Mughal berada pada masa kejayaan. Inggris dan Belanda mendapatkan izin untuk menanamkan modal dan mulai berusaha menguasai India. Tahun 1857 M, Kerajaan Mughal dikuasai penuh oleh Inggris dan wilayah Asia Tenggara yang lain mulai dikuasai juga oleh bangsa Eropa.
Bangsa Eropa mulai menguasai Turki dan wilayah Timur Tengah ketika Turki Usmani kalah dalam pertempuran Wina dan kalah di setiap pertempuran sehingga wilayah kekuasaannya memisahkan diri satu persatu. Hal itu membuat bangsa Eropa mulai berani untuk menjajah dan menguasai Timur Tengah.
3.       Latar Belakang Gerakan Modernisasi (Tajdid) Islam
Masa pembaharuan adalah periode yang dialami umat Islam setelah menyadari bahwa kolonialisme yang dilakukan bangsa Barat hanya melahirkan kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan bagi Islam.
Gerakan modernisasi diawali dari keheranan umat Islam setelah Mesir dikuasi tentara Prancis. Kemudian upaya-upaya untuk membebaskan daerah-daerah Muslim mulai dilancarkan.
Kekalahan Mesir mendorong umat Islam untuk memajukan diri menghadapi kemajuan pesat bangsa Barat agar tidak diremehkan dan selalu menjadi yang tertindas.
4.       Perkembangan Gerakan Modernisasi Islam
Banyak tokoh-tokoh yang berjuang untuk memurnikan ajaran Islam dengan slogan “Kembali kepada Al-Qur’an dan Al Hadist, yaitu:
a. Syah Waliyullah (1703 – 1762 M)
Lahir di Delhi, 21 Februari 1703 M. Syah Waliyullah adalah seorang guru dan pengarang. Buku-bukunya yaitu Hujjatullah Al-Balighah, Fayud Al-Haramain, Al-Fauzul Kabir fi Usulit-Tafsir.
Ide pemikiran tentang penyebab kemunduran umat Islam adalah:
- Perubahan sistem pemerintahan Islam dari sistem kekhalifahan menjadi kerajaan
- Perpecahan yang ditimbulkan aliran-aliran dan mahzab-mahzab dalam Islam
- Masuknya adat istiadat dan ajaran-ajaran bukan Islam ke dalam keyakinan umat Islam
b. Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1787 M)
Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang ulama besar dan juga pengarang buku tentang Islam. Salah satu bukunya adalah Kitab At-Tauhid yang isinya tentang pembeantasan syirik, khufarat, takhayul dan bid’ah yang terdapat di kalangan umat Islam dan mengajak umat Islam agar kembali pada ajaran tauhid yang murni. Gerakan yang dilakukan untuk merealisasikan pemikiran bahwa pintu ijtihad masih terbuka dan penentangan terhadap taqlid buta adalah dengan menghacurkan makam keramat, melarang ziarah kubur.
Gerakan Abdul Wahab lebih dikenal dengan Gerakan Wahabi atau Gerakan Muwahidun.
Pemikiran Abdul Wahab:
- Hanya Al-Qur’an dan hadist yang merupakan sumber asli ajaran Islam, sedangkan pendapat ulama bukan sumber hukum Islam.
- Taqlid pada ulama tidak dibenarkan
- Pintu ijtihad tetap terbuka dan tidak tertutup
c. Al-Tahtawi (1801 – 1873 M)
Al-Tahtawi pernah menyerukan agar umat Islam tidak hanya mementingkan urusan akhirat, tetapi juga harus mementingkan urusan dunia agar tidak dijajah bangsa lain.
Pemikiran Al-Tahtawi:
- Ajaran Islam tidak hanya mementingkan akhirat tetapi juga kehidupan dunia
- Kekuasaan raja yang absolute harus dibatasi oleh syariat, raja harus bermusyawarah dengan ulama dan kaum intelektual
- Pendidikan bersifat universal (untuk semua dan bebas tidak memandang perbedaan)
- Umat Islam harus dinamis dan tidak statis
d. Jamaluddin Al-Afghani (1893 – 1897 M)
Jamaluddin Al-Afghani diangkat menjadi Perdana Menteri di Afghanistan dan karena persoaln politik di Mesir, Al-Afghani pergi ke Prancis lalu mendirikan Ar-Urwatul Wutsqa yang bertujuan untuk memperkuat persatuan muslim, membela dan mendorong umat Isla untuk mencapai kemajuan.
Al-Afghani pergi ke Istambul (Turki) atas undangan Sultan Abdul Hamid untuk menyusun strategi menentang kolonialisme Barat disana. Meskipun sangat anti imperialisme Eropa, ia mengagumi pencapaian ilmu pengetahuan Barat dan menganggap tidak ada kontradiksi antara Islam dan ilmu pengetahuan. Gagasannya mendirikan sebuah Universitas yang khusus mengajarkan ilmu pengetahuan modern di Turki ditentang para ulama.
Pemikiran-pemikiran Al-Afghani :
- Umat Islam harus kembali kepada ajaran agamanya yang murni dan memahami Islam dengan rasio dan kebebasan sehingga kejayaan dapat diraih lagi dan juga mamu menghadapi dunia modern
- Kaum wanita juga harus maju dan bekerja sama dengan pria untuk mewujudkan masyarakat Islam yang dinamis dan maju
- Kepemimpinan otokrasi diubah jadi demokrasi
- Ajaran Pan-Islamisme harus diwujudkan karena persatuan dan kerjasama seluruh umat Islam sangat penting untuk membuat Islam kembali berjaya
- Perlunya interpretasi Al-Qur’an dan hadist yang baru karena setiap zaman itu berbeda sehingga pintu ijtihad harus dibuka lebar
e. Muhammad Abduh (1847 – 1905 M)
Muhammad Abduh mengajar di Al-Azhar dan menjabat rektor dan aktif menulis di surat kabar Al-Ahram.
Ide-ide pembaharuan Muhammad Abduh:
- Pembukaan pintu ijtihad karena merupakan dasar penting menafsirkan ajaran Islam
- Menghargai akal karena Islam adalah agama rasional yang sejalan dengan akal dan akan membuat ilmu pengetahuan menjadi maju
- Kekuasaan negara dibatasi konstitusi
- Memodernisasi sistem pendidikan di Al-Azhar
f. Muhammad Rasyid Rida (1865 – 1935 M)
Muhammad Rasyid Rida adalah murid Muhammad Abduh. Setelah mempelajari kelemahan masyarakat muslim pada masanya, Muhammad Rasyid Rida menyimpulkan bahwa kelemahan itu karena umat Islam cenderung mengikuti trades secara buta (taqlid), minat yang berlebihan terhadap dunia sufi dan berhentinya pemikiran ulama yang mengakibatkan timbulnya kegagalan dalam mencapai kemajuan bidang sains dan teknologi.
Muhammad Rasyid Rida membedakan antara masalah peribadatan dan muamalah. Menurutnya, Al-Qur’an dan hadist harus dilaksanakan dan tidak berubah meskipun situasi berubah dan berkembang. Kemudian masalah yang lain adalah pelaksanaan dasar-dasar yang telah diberikan Allah kepada manusia adalah untuk menentukan dengan akal pikiran dan melihat situasi yang dihadapi sepanjang tidak menyimpang dari ajara Islam.
Di bidang pendidikan, Rasyid Rida menghimbau dan mendorong umat Islam untuk menggunakan kekayaan bagi pembangunan lembaga pendidikan lalu berupaya memajukan ide pengembangan kurikulum dengan muatan ilmu agama dan umum.
Di bidang politik, Rasyid Rida menyerukan umat Islam agar bersatu kembali di bawah satu keyakinan, satu sistem moral, satu sistem pendidikan, dan tunduk dalam satu sistem hukum dalam satu kekuasaan yang berbentuk negara yang berbentuk khilafah.
g. Muhammad Iqbal (1873 – 1938 M)
Muhammad Iqbal yang merupakan salah seorang muslim pertama di India yang sempat mendalami pemikiran barat modern dan mempunyai latar belakang pendidikan yang bercorak tradisional Islam. Karya utamanya adalah buku yang berjudul The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Pembangunan Kembali Pemikiran Keagamaan dalam Islam). Muhammad Iqbal mengungkapkan kembali pemikiran agama Islam dalam bahasa modern untuk generasi muslim yang baru.
h. Sayyid Qutub dan Yusuf Al-Qardawi (1906 – 1966 M)
Al-Qardawi menekankan perbedaan modernisasi dan pembaratan yaitu modernisasi bukan berarti upaya pembaratan dan memiliki batasan dalam memanfaatkanp ilmu pengetahuan modern dan penerapan teknologi. Islam terbuka untuk menerima ilmu pengetahuan dan teknologi.
i. Sir Sayid Ahmad Khan (india 1817-1898)
Sir Sayid Ahmad Khan menyerukan saintifikasi masyarakat muslim. Ia melihat ada kekuatan yang dapat membebaskan ilmu pengetahuan dan tekhnologi modern yaitu penjelasan mengenai suatu peristiwa dengan sebab-sebabnya yang bersifat fisik materiil. Ahmad Khan harus membebaskan kaum muslim dengan melenyapkan unsur yang tidak ilmiah dari pemahaman terhadap Al Qur’an. Upayanya adalah dengan menciptakan metode baru penafsiran Al Qur’an. Hasilnya adalah teologi yang memiliki karakter atau sifat ilmiah dalam tafsir Al Qur’an
5.       Rumusan pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia oleh Ahmad Dahlan :
-  Mengembalikan ajaran Islam sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an dan sunnah
-  Menjadikan ajaran Islam sebagai landasan pemberdayaan sosial
-  Kebangkitan umat Islam melalui pendidikan yang tidak memisahkan antara agama dan ilmu
   pengetahuan
-  Dalam politik harus anti dan menentang penjajahan, imperialism dan kolonialisme
6.       Bukti kebangkitan dan kemajuan Islam pada masa pembaharuan
a. Turki
Pemerintahan Sultan Muhammad II (1785 – 1839 M), dilakuka upaya:
- Modernisasi bidang pendidikan dengan memasukkan kurikulum pengetahuan umum pada lembaga-lembaga pendidikan Islam
- Mendirikan lembaga pendidikan “Mektebi Ma’arif” untuk mencetak tenaga ahli bidang administrasi dan membangun “Mektebi Ulumi Idebiyat” untuk mencetak tenaga ahli penerjemahan
b. India
Muncul cendekiawan muslim berpikiran modern yang melakukan usaha agar umat Islam menguasai IPTEK yaitu Syekh Waliyullah, Sayid Ahmad Khan, Muhammad Ali Jinnah, dan Abdul Kalam Azad
c. Mesir
Pemerintahan Muhammad Ali (1805 – 1849 M) Mesir mengirim mahasiswa untuk mempelajari IPTEK ke Prancis dan setelah kembali ke Mesir mereka diminta mengajar di berbagai perguruan tinggi.
Bidang kebudayaan Mesir juga berkembang, yaitu arsitektur, sastra dan seni kaligrafi yang berkembang cepat ke seluruh dunia.
7.       Manfaat Sejarah Islam Pada Masa Pembaharuan
- Sabar dan menanamkan sikap jihad yang sesuai dengan ajaran islam (Al-Qur’an dan Hadist)
- Sebagai sumber inspirasi untuk mempersatukan umat Islam
- Sebagai motivasi diri untuk masa depan
- Membangun masa depan yang lebih baik
Nilai-nilai positifnya adalah nilai persatuan, solidaritas, pembaruan, jihad, dan kemerdekaan.
8.       Pengaruh Gerakan Modernisasi Islam di Indonesia
Terbentuknya organisasi sosial keagamaan yang menandakan tumbuhya benih nasionalisme modern.
Cita-cita gerakan modernisasi Islam di Indonesia:
·         Bidang Akidah          : Melakukan gerakan pemurnian ajaran Islam dari paham yang tidak sesuai dengan Islam
·         Bidang Politik            : Membebaskan Indonesia dari penjajah
·         Bidang Pendidikan     : Melakukan perubahan kurikulum pendidikan dan memadukannya dengan pendidikan modern
·         Bidang Ekonomi        : Melakukan perubahan ekonomi rakyat Indonesia, karena banyak yang
     miskin karena penjajahan
Kalau menurutku sih, ilmu pengetahuan itu penting, dunia selalu berkembang dan selalu ada sesuatu hal yang baru. Tetapi, kita juga harus memilah-milah sesuai dengan ajaran Islam terutama dalam bidang budaya, politik. Kalu ilmu pengetahuan mungkin masih bisa sesuai dengan Islam, hanya pandanganya saja yang berbeda yaitu secara ilmiah dan agama.
Bila terjadi perbedaan pendapat hendaknya dapat disepakati menurut ajaran Islam dalam Al-Qur'an dan hadist. Setiap orang memang memiliki pendapat yang berbeda tetapi selalu ada kemungkinan bahwa setiap perbedaan itu terdapat satu kesepakatan dalam menyelesaikan suatu masalah. :)

No comments:

Post a Comment